Biar Paham, Ini Perbedaan HIV dan AIDS

Ilustrasi HIV Aids. (Pixabay/Suara.com/Selebgram.net)

Selebgram.net–  Setiap 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Masih banyak mengira HIV dan AIDS penyakit ini serupa. HIV dan AIDS kerap disebut bersamaan, tetapi gangguan ini berbeda. Lalu apa perbedaan HIV dan AIDS?

Dilansir Suara.com dari situs Rumah Sakit Mitra Keluarga, HIV dan AIDS merupakan dua gangguan yang berbeda, meskipun sumber penyakitnya berasal dari virus. Perbedaan yang mendasar dapat dilihat dari definisi akronimnya.

AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. Sementara HIV adalah singkatan Human Immunodeficiency Virus.

Artinya, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS adalah kondisi akibat serangan virus HIV.

Virus ini menghancurkan imunitas tubuh manusia, khususnya pada sel darah putih yang disebut sebagai sel CD4. Sehingga penderitanya rentan pada pneumonia, salmonella, kandidiasis, toxoplasma, tuberkulosis (TB) hingga kanker.

Baca Juga  Jarang Diketahui, Ini 4 Manfaat Minum Susu Sebelum Tidur!

Jika sudah akut, HIV menyebabkan AIDS. Istilah lainnya, HIV stadium 3 dengan kondisi dan gejala yang kompleks adalah AIDS.

Tahapan HIV dan AIDS

Dilansir mitrakeluarga.com, ada tiga tahap dalam HIV dan AIDS ketika menginfeksi seseorang. Tahapan ini ditandai dengan berbagai gejala, dari yang ringan hingga parah.

HIV Akut

Tahap HIV Akut ditandai dengan gejala awal yang umumnya dirasakan oleh penderita HIV dan AIDS seperti sakit kepala, demam, flu, muncul ruam. Kemudian, virus mulai menghancurkan sel darah putih dan melawan imunitas tubuh. Pada fase ini, tingkat HIV dalam darah juga sangat tinggi dengan risiko penularan yang cukup besar. Meskipun baru terjangkit di tahap ini, penanganan seperti Antiretroviral (ARV) direkomendasikan agar penyintas dapat mengurangi risiko penularan HIV dan AIDS.

Baca Juga  Mau Jadi Murid Berprestasi? Yuk Coba 3 Tips Ini!

HIV Kronis

Pada tahap ini, penderita tertular HIV dengan perkembang biakkan virus yang rendah, dan tanpa gejala. Jika tidak ditindak dengan terapi Antiretroviral (ARV), infeksi HIV kronis ini akan terus tumbuh hingga 10 tahun kedepan. ARV dapat mengurangi risiko penularan virus, meskipun melakukan aktivitas seksual kepada orang dengan negatif HIV.

AIDS

AIDS adalah fase HIV paling parah. Kekebalan tubuh tidak bisa melawan infeksi, bakteri, dan kanker. Jika tidak diobati, maka harapan hidup penderita AIDS hanya 3 tahun sejak penderita dinyatakan positif. Jumlah sel CD4 dalam tubuh penderita AIDS menurun hingga 200 sel/mm3, padahal kondisi normal seharusnya di kisaran 500-1.600 sel/mm3.

Penularan HIV dan AIDS

Baca Juga  Waspada, Amoeba Pemakan Otak Picu Kematian

Sebab pola penularan HIV dan AIDS sama-sama terjadi melalui cairan tubuh, seperti darah, air susu ibu (ASI), cairan yang dihasilkan dari organ reproduksi. Sehingga seks bebas tanpa memakai kondom dan penggunaan jarum suntik berulang dan bergantian menjadi aktifitas rentan terkena AIDS dan HIV. Kehamilan dan ibu menyusui dapat menularkan HIV dan AIDS kepada bayinya. Oleh karena itu hindari seks bebas, setia pada pasangan, hindari narkoba, dan jangan menggunakan jarum suntik yang tidak steril.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *